Upon its release on streaming platforms (including a notable run on the Indonesian service Mola TV and later international festivals via virtual screenings), Cerita Amput received polarized reactions. Mainstream audiences accustomed to faster pacing found it “depressing” and “slow.” However, critics and arthouse enthusiasts praised it as a brave, unflinching masterpiece.
Kata “amput” menyelinap masuk ke percakapan seperti pestisida: cepat, merata, meninggalkan rasa getir. Teman lama berkunjung dan, setelah beberapa menit, mereka tutup mulut saat melihat lengannya yang tersisa. Ia merasakan pandangan mereka seperti benang yang ditarik, membuatnya kaku. Ia belajar menghindari cermin pada hari-hari gelap, tapi ada juga hari-hari lain ketika ia sengaja berdiri di depan kaca untuk melihat jejak bekas luka—sebuah peta yang menerangkan bahwa dia pernah bertahan. Cerita Amput %5B2021%5D